Rabu, 19 Desember 2012

16 Masjid Tertua Di Indonesia (9-16)


Berikut adalah 16 masjid tertua di Indonesia Versi Julian Triono

okeyy Blogger, yang di awal tadi telah membahas masjid tertua di Indonesia dari urutan 1-8, di page ke-2 ini akan saya bahas tentang masjid tertua di Indonesia juga, TETAPI urutan 9-16, kan judulnya 16 Masjid, ehehe. Okay, langsung ajah yaa masbero :


9. Masjid Agung Banten
Masjid Agung Banten adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang penuh dengan nilai sejarah. Setiap harinya masjid ini ramai dikunjungi para peziarah yang datang tidak hanya dari Banten dan Jawa Barat, tapi juga dari berbagai daerah di Pulau Jawa.
Masjid Agung Banten terletak di Desa Banten Lama, sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang. Masjid ini dibangun pertama kali olehSultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama dari Kesultanan Banten. Ia adalah putra pertama dari Sunan Gunung Jati.
Salah satu kekhasan yang tampak dari masjid ini adalah atap bangunan utama yang bertumpuk lima, mirip pagoda China yang juga merupakan karya arsitek Cina yang bernama Tjek Ban Tjut. Dua buah serambi yang dibangun kemudian menjadi pelengkap di sisi utara dan selatan bangunan utama.
Di masjid ini juga terdapat kompleks pemakaman sultan-sultan Banten serta keluarganya. Yaitu makam Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Sementara di sisi utara serambi selatan terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin, dan lainnya.
Masjid Agung Banten juga memiliki paviliun tambahan yang terletak di sisi selatan bangunan inti Masjid ini. Paviliun dua lantai ini dinamakan Tiyamah. Berbentuk persegi panjang dengan gaya arsitektur Belanda kuno, bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Hendick Lucasz Cardeel. Biasanya, acara-acara seperti rapat dan kajian Islami dilakukan di sini. Sekarang bangunan ini digunakan sebagai tempat menyimpan barang-barang pusaka.
Menara yang menjadi ciri khas Masjid Banten terletak di sebelah timur masjid. Menara ini terbuat dari batu bata dengan ketinggian kurang lebih 24 meter, diameter bagian bawahnya kurang lebih 10 meter. Untuk mencapai ujung menara, ada 83 buah anak tangga yang harus ditapaki dan melewati lorong yang hanya dapat dilewati oleh satu orang. Pemandangan di sekitar masjid dan perairan lepas pantai dapat terlihat di atas menara, karena jarak antara menara dengan laut yang hanya sekitar 1,5 km.
Dahulu, selain digunakan sebagai tempat mengumandangkan adzan, menara yang juga dibuat oleh Hendick Lucasz Cardeel ini digunakan sebagai tempat menyimpan senjata.


10. Masjid Mantingan

Masjid Mantingan adalah masjid kuno di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Jepara, Jawa Tengah. Masjid ini dilaporkan didirikan di Kesultanan Demak pada tahun 1559. Didirikan oleh ubin lantai tinggi ditutup dengan cina buatan sendiri, dan juga kereta api-undakannya. Semua didatangkan dari Makao.
Bubungan atap bangunan gaya termasuk china. Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru, sedang dinding sebelah tempat imam dan pendeta itu dihiasi dengan relief persegi bergambar margasatwa, dan penari penari diukir di batu kuning tua. Pengawasan pekerjaan konstruksi masjid ini tak lain adalah Babah Liem Mo Han. Di dalam kompleks masjid terdapat makam Sultan Hadlirin, suami dari Kanjeng Ratu Kalinyamat dan adik ipar Sultan Trenggono, penguasa terakhir Demak. Selain itu ada juga makam Waliullah Mbah Abdul Jalil, yang disebut sebagai nama lain Syekh Siti Jenar


11. Masjid Al-Hilal Katangka

Masjid Al-Hilal Katangka ini dibangun pada tahun 1603 masehi pada masa pemerintahan Taja Gowa-24, Aku Manga’ragi Daeng-Manrabbiakaraeng Lakiung, x 14,4 meter.
Tinggi bangunan 11,9 meter danSultan Alauddin. Kemudian pada tahun 1605 m, masjid ini benar-benar dirubah untuk diberi nama Masjid Katangka. Masjid berukuran 14,1 x struktur 14,4 meter dan sebuah bangunan tambahan 4,1 90 meter dinding tebel, bahan baku dari batu bata dengan atap ubin dan lantai porselen. Lokasi di Katangka, Gowa.


12. Masjid Tua Palopo

Masjid Tua Palopo merupakan masjid peninggalan Kerajaan Luwu yang berlokasi di kota Palopo, Sulawesi Selatan. Masjid ini didirikan oleh Raja Luwu yang bernama Datu Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe pada tahun 1604 M. Masjid yang memiliki luas 15 m² ini diberi nama Tua, karena usianya yang sudah tua. Sedangkan nama Palopo diambil dari kata dalam bahasa Bugis dan Luwu yang memiliki dua arti, yaitu: pertama, penganan yang terbuat dari campuran nasi ketan dan air gula; kedua, memasukkan pasak dalam lubang tiang bangunan. Kedua makna ini memiliki relasi dengan proses pembangunan Masjid Tua Palopo ini.
Pada awal abad ke-17 para pedagang yang beragama Islam datang ke Sulawesi Selatan yang kemudian menyebarkan agama Islam. Agama ini berkembang pesat semenjak kedatangan penyebar dan pengembang Islam dari Koto Tangah Minangkabau, Sumatera Barat yaitu Datuk Sulaeman, Abdul Jawad Datuk Ri Tiro, dan Abdul Makmur Datuk Ri Bandang. Ketiganya pertama kali mendarat di Bua Luwu tahun 1603. Selanjutnya mubaliq asal Minangkabau itu berhasil mengislamkan Raja Luwu yang bergelar Payung Luru XV La Pattiware Daeng Parrebung, juga bergelar Sultan Muhammad Mudharuddin. Pengislaman ini terjadi pada tahun 1603 dan bertepatan 15 Ramadhan 1013 H. Setelah raja memeluk agama Islam, maka para pembesar dan rakyat Luwu mengikutinya. Kepesatan perkembangan agama Islam di Kerajaan Luwu mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Datu Luwu atau Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi, Sultan Abdullah Matinroe Ri Malangke yang menggantikan ayahandanya pada awal tahun 1604.
Pada awal pemerintahan Sultan Abdullah memindahkan Ibu kota Kerajaan Luwu dari Patimang ke Ware Palopo. Pertimbangan perpindahan ini berdasarkan pada teknis strategis pemerintahan dan pengembangan ajaran agama islam. Untuk mendukung perkembangan agama Islam maka Khatib Sulaeman yang kemudian bergelar Datuk Ri Patimang berhasil mendirikan sebuah masjidpermanen pada tahun 1604 m di tengah kota Palopo tidak jauh dari istana. Masjid ini sampai kini masih berdiri disebut Masjid Tua Palopo.
Masjid Tua Palopo tumbuh pada zaman madya Indonesia yang berfungsi sebagai masjid Kerajaan atau masjid istana, maka dari itu letaknya berada di sebelah barat alun-alun dan masjid merupakan gambaran struktur perkotaan pada awal masa Islam di Indonesia
Bangunan masjid terletak di tepi jalan, tepatnya di sudut perempatan jalan. Tidak jauh dari masjid ini berdiri Istana Raja Luwu. Denah masjid tua Palopo berbentuk bujur sangkar. Ukurannya yaitu 15 × 15 m, sedang ketebalan dinding mencapai 90,2 cm dan tinggi dinding 3 m dari permukaantanah. Ukuran ketinggian seluruhnya dari permukaan tanah sampai ke puncak atap mencapai 10,80 m.
Masjid menghadap ke timur, pintu masuk diapit oleh enam buah jendela dengan ukuran lebar 85 cm dan tinggi 117 cm. Setiap pintu pada bagian atasnya agak melengkung (setengah lingkaran) dan pada puncaknya di sebelah kanan dan kiri terdapat tonjolan dengan motif daun, sehingga bentuknya seperti pintu bersayap serta dihiasi dengan huruf Arab.
Dinding sisi utara dan selatan berisi masing-masing dua buah jendela, sedangkan di sisi barat terdapat ceruk yang berfungsi sebagai mihrab. Mihrab bagian atas berbentuk melengkung (setengahlingkaran) dan bagian atas meruncing sehingga membentuk seperti kubah. Hiasan sekeliling mihrab yaitu daun-daun kecil. Sebagai pengapit ceruk adalah ventilasi yang berbentuk belah ketupat dengan komposisi enam buah berjajar dua-dua mengapit ceruk.
Masjid Palopo beratap tumpang tiga seperti masjid-masjid tua di Indonesia lainnya. Atap tumpang teratas terdapat sebuah mustaka yang terbuat dari keramik Cina yang diperkirakan jenis Ming berwarna biru. Mustaka tersebut secara teknis sebagai pengunci puncak atap untuk menjaga masuknya air, tetapi juga secara filosofis berarti menunjukkan ke Esaan Tuhan. Atap terbuat dari sirap. Tumpang tengah dan bawah masing-masing ditopang oleh empat buah pilar (tiang kayu), sedangkan tumpang paling atas ditopang oleh sebuah tiang utama (soko guru) yang langsung menopang atap. Soko guru inilah yang disakralkan oleh orang-orang tertentu, terbuat dari kayu lokal yaitu cinna gori yang dibentuk secara utuh, dan tampak ditatah dengan ukuran garis tengah 90 cm.
Lantai masjid dari tegel ubin teraso, pengganti ubin asli yang terbuat dari batu tumbuk. Di dalam ruangan masjid terdapat mimbar dari kayu dengan atap kala parang atau kulit kerang. Gapura mimbar berbentuk paduraksa, memiliki hiasan kala makara yang distilir dengan daun-daunan yang keluar dari kendi. Sebagian masyarakat Luwu beranggapan bahwa tepat dibawah mimbar terdapat makam Puang Ambe Monte yang berasal dari Sangalla Tana Toraja. la adalah arsitek yang dipercayakan oleh Sultan Abdullah untuk membuat dan membangun Masjid Tua Palopo pada tahun 1604.


13. Masjid Asasi Nagari Gunung

Masjid Asasi Nagari Gunung adalah salah satu masjid yang tertua di Kodya Padang Panjang, dibangun secara gotong royong oleh seluruh masyarakat Nagari Nan Ampek Jurai dan nagari sekitamya. Arsitektur masjid ini menerapkan konsep arsitektur tradisional Minangkabau. Ini terlihat bentuk atap dan ukir-ukiran dinding masjid. Sedangkan, kubahnya sebagai ciri sebuah masjid, berbentuk atap limas bertingkat tiga, sebagai perlambang bahwa Nagari Gunung dikuasai oleh 3 unsur, yakni agama, unsur adat, dan unsur pemerintah.
Konon di pengujung abad ke-14, sekitar tahun 1380 M, datanglah ke Nagari Gunung empat pasang suami istri yang berasal dari Pariaman Padang Panjang. Waktu itu Nagari Gunung masih merupakan daerah yang tidak bertuan sehingga diduga empat pasang suami istri tersebut merupakan nenek moyang masyarakat Nagari Gunung. Mereka—sesuai dengan jumlah pasangan—membagi Nagari Gunung menjadi 4 jurm ‘wilayah’.
Hari berganti hari, tahun berganti tahun, maka sekitar tahun 1405 M keempat jurai tersebut sepakat untuk mendirikan sebuah masjid sebagai tempat beribadah, bermusyawarah, dan sebagai tempat belajar ilmu serta mendalami isi Al-Qur’an, dan lain-lain. Beberapa tahun kemudian barulah dimulai pembangunan masjid tersebut yang ditematkan di Nagari Sigando. Sekarang masuk Kelurahan Sigando dalam Kecamatan Janjang Timur.
Lebih kurang sepuluh tahun, masjid itu selesai dibangun dan diberi nama Masjid Asasi Nagari Gunung. Tanah masjid ini adalah tanah wakaf Imam Basa dan Khatib Kayo. Keduanya menurut adat yang berlaku diangkat menjadi imam masjid dan khatib Masjid Nagari Gunung. Pengurus masjid Asasi disebut Tuanku Ampek Jurai Nagari Gunung.
Masjid Asasi dibangun di atas tanah 25 x 22 m, berbentuk segi empat, melambangkan bahwa yang mencetuskan pembangunan masjid adalah Nagari Ampek Jurai. Di tengah ruangan masjid terpancang tiang besar, melambangkan bahwa Nagari Gunung mempunyai kesatuan pimpinan (komando) yang tercermin dalam pepatah: ada orang yang niahulukan selangkah, ditinggikan seranting.
Sampai saat ini Masjid Asasi Nagari Gunung masih berdiri kokoh. Selain untuk shalat rawatib (lima waktu) dan shalat Jumat, masjid ini juga menjadi taman pendidikan Al-Qur ‘an (TPA) bagi kanak-kanak dan remaja. Pada malam-malam tertentu juga diadakan wirid.


14. Masjid Al-Huda Kopandakan

Mesjid Al-Huda terletak di Desa Kopandakan, Kecamatan Kotamobagu Selatan. Mesjid ini menyimpan cerita bagi terdahulu (orang-orang terdahulu).
Menurut cerita rakyat, mesjid tersebut yang merupakan pertama dan tertua di daerah Bolaang Mongondow. Mesjid ini di bangun pada tahun 1926 dimasa pemerintahan Kepala Desa (sangadi) Losik Lobud. Pada masa penjajahan belanda waktu itu.
Pada mulanya tempat itu masih berupa langgar yang terbuat dari Bambu, selain itu, langgar itu juga, sering kali menjadi persinggahan bagi masyarakat yang melintasi wilayah tersebut.
Misteri tersebut adalah salah satunya tiang penyangga yang berada di dalam mesjid yang berjumlah empat Buah. Menurut Mantan Iman, dimana tiang tersebut kerap menunjukan sebuah keajaiban bagi setiap orang yang hatinya bersih untuk menjalankan sholat. “Banyak kali, tiang Alip itu menunjukan keajaiban bagi orang-orang yang benar menjalankan sholat,” tutup Tete Rita, tanpa memperpanjang cerita.

15. Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Masjid Agung Sang Cipta Rasa (dikenal juga sebagai Masjid Agung Kasepuhanatau Masjid Agung Cirebon) adalah sebuah masjid yang terletak di dalam kompleks Keraton Kasepuhan, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Konon, masjid ini adalah masjid tertua di Cirebon, yaitu dibangun sekitar tahun 1480 M atau semasa dengan Wali Songomenyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Nama masjid ini diambil dari kata “sang” yang bermakna keagungan, “cipta” yang berarti dibangun, dan “rasa” yang berarti digunakan.
Menurut tradisi, pembangunan masjid ini dikabarkan melibatkan sekitar 500 orang yang didatangkan dari Majapahit, Demak, dan Cirebon sendiri. Dalam pembangunannya, Sunan Gunung Jati menunjuk Sunan Kalijaga sebagai arsiteknya. Selain itu, Sunan Gunung Jati juga memboyong Raden Sepat, arsitek Majapahit yang menjadi tawanan perang Demak-Majapahit, untuk membantu Sunan Kalijaga merancang bangunan masjid tersebut.

16. Masjid Asy-Syura

Masjid Asy-Syura atau juga disebut Masjid Cipari adalah salah satu masjid tertua di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Masjid yang berlokasi di desa Cipari, kecamatanPangatikan ini mulai dibangun tahun 1895 dalam kompleks pesantren, namun baru selesai pada tahun 1934.[1] Pendirinya adalah K.H. Yusuf Taudziri.
Masjid ini memiliki keunikan karena mirip dengan bangunan gereja. Ciri yang menegaskan bahwa bangunan tersebut adalah masjid, hanyalah kubah dan menara. Yang membuat Masjid Cipari sangat mirip dengan gereja, selain bentuk bangunannya yang memanjang dengan pintu utama persis ditengah-tengah nampak muka bangunan, juga keberadaan menaranya yang terletak di ujung bangunan persis diatas pintu utama.
Posisi menara dan pintu utama telah menjadikan bagian ini tampil tepat sinergi dan tampak luas. Dari bentuk dan posisi menara dan pintu utama ini, bangunan ini mengingatkan pada bentuk bangunan-bangunan gereja. Ketika masuk ke dalam, yang memberi penanda bahwa bangunan ini adalah masjid hanyalah keberadaan ruang mihrab, berupa penampil yang menempel di dinding arah kiblat. Sementara ruang shalatnya, semuanya mirip ruang kelas yang dapat dimasuki dari pintu di sebelah utara dan selatan, atau dari pintu timur yang terletak diantara ruang naik tangga.
Pada Masjid Cipari, langgam art deco sebagaimana dicirikan dengan bentuk geometris, terlihat jelas pada pengolahan mashabnya. Pola-pola dekorasi geometris yang berulang diatas material batu kali memperlihatkan dengan jelas langgam ini. Selain itu, garis horisontal yang halus pada sisi samping kanan maupun kiri, juga mencirikan langgam yang sama.
Untuk menara dan atapnya yang menyerupai kubah dengan beberapa elemen dekorasi pada bagian samping maupun puncaknya, juga menegaskan langgam art deco yang artistik. Menara masjid berketinggian lebih kurang 20 meter, juga menegaskan bahwa bangunan ini adalah masjid
Masjid ini selain berfungsi sebagai masjid dan pesantren, pada zaman kolonial digunakan sebagai pesantren sekaligus tempat latihan perang, pertahanan pejuang kemerdekaan, dan berdirinya PSII cabang Garut. Pada zaman kemerdekaan sebagai basis latihan tentara pejuang dan dapur umum. Pada zaman pemberontakan DI/TII dijadikan tempat pengungsian, perawatan pejuang yang terluka ketika kembali dari hijrah ke Yogyakarta, tempat perlindungan para pejuang dan keluarganya, dapur umum, serta latihan perang. Kemudian, pada zaman G30S/PKI dijadikan tempat perjuangan melawan PKI, tempat pertemua para ulama, pertahanan dan perlindungan, serta dapur umum. Sekarang, masjid ini berfungsi berfungsi sebagai tempat ibadah dan madrasah.

Itulah sedikit ulasan tentang Masjid-masjid tua di Indonesia beserta penjelasannya. Memang banyak masjid kuno peninggalan dahulu, tetapi hanya itu yang bisa saya ulas. Semoga Bermanfaat yaww

0 komentar:

Posting Komentar